Catatan Dampar #1

 Catatan Dampar #1

Saya sangat ingin sekali menulis, tapi terkadang saya sangat bingung akan menulis apa. Kadang juga kalau menulis berhenti di tengah jalan hilang inspirasi. Tapi ya sudahlah, mulai sekarang semoga bisa ada catatan dampar selanjutnya. Tugas saya hanya menulis, dibaca atau tidak ya sudahlah.

Saya lupa kapan pertama kali suka sepakbola. Seperti umumnya anak desa lain, kami sangat jauh sekali dari jangkauan teknologi beda seperti sekarang. Tapi meski begitu sepakbola seperti mendarah daging bagi kami. Setiap sore anak-anak bermain sampai lepas maghrib baru selesai. Hampir setiap anak laki-laki menyukai sepakbola. 

Satu yang saya ingat sangat lekat dalam ingatan adalah pada waktu masih SD sekitar kelas 2 atau 3. Bapak saya pernah berjanji kalau nanti uang pensiunan dari pabrik cair saya akan dibelikan kaos olahraga lengkap dengan peralatannya. Saya masih ingat betul waktu itu bulan Agustus. Bapak memang pernah bekerja di pabrik plywood di Ambon. Karena pabrik pailit maka bapak memutuskan menjadi petani di rumah. 

Bapak menepati janjinya. Ketika gajinya cair, bapak mengajakku ke sebuah toko olahraga yang waktu itu paling besar di Ponorogo. Namanya Telaga Intan, toko khusus peralatan olahraga. Letaknya ada di pojok alun-alun utara terus ke timur. Pertigaan masih lurus sedikit lalu toko tersebut ada di selatan jalan. Tokonya sangat besar sekali. Menjual berbagai macam peralatan olahraga dan musik.

Malam-malam kami berdua datang ke sana. Tanpa pikir panjang saya memilih kaos warna merah. Saya lupa apakah bapak yang memilihkan. Sepasang kaos sepakbola warna merah dengan celana pendek hitam. Pada punggungnya tertuliskan nama Rooney nomor 8. Waktu itu belum ada kaos Ronaldo. Kelak kaos ini masih ada sampai saya menginjak usia remaja. Otomatis klub sepakbola favorit saya adalah MU.

Tak hanya baju dan celana, Bapak juga membelikan sepatu, kaos kaki, dan juga bola. Pada waktu itu masih jarang sekali anak yang punya sepatu apalagi bola. Salah satu merk yang anak-anak desa tahu adalah mikasa. Biasanya berwarna hitam putih. Tapi karena melihat harganya saya tidak memilih bola itu. saya memilih bola yang lebih murah dengan harga kalau tidak salah 76 ribu. Saya lupa merek bolanya. Warnanya kuning dan ungu. Agak berat kalau ditendang. 

Mulai saat itu, setiap pagi Bapak selalu mengajak passing berdua. Melewati jalan-jalan desa. Walaupun hari masih gelap. Mungkin itulah salah satu alasan insting passing saya lebih baik. Saya menjadi lebih dekat dengan sepakbola. Gila-gilaan bareng teman-teman bermain sampai maghrib. Sampai kaki berdarah-darah. Tapi meskipun begitu hati senang.

 

Komentar